14 April 2012 - 19:30

"Pernyataan tokoh salaf tersebut menunjukan kejumudan, kejahilan dan keekstrimannya dalam beragama. Pernyataan tersebut berbahaya bagi masa depan persatuan rakyat Mesir. Permusuhan Muhammad Ismail dan orang-orang semisalnya terhadap Syiah hanya akan menguntungkan pihak musuh."

Menurut Kantor Berita ABNA, Muhammad Ismail, utusan kelompok salaf dalam Parlemen Mesir dalam sebuah program televisi "Hari Terakhir" yang disiarkan stasiun TV Al Manar menyatakan secara terbuka celaannya terhadap mazhab Syiah, "Meskipun universitas al Azhar menyebut Syiah bagian dari kaum muslimin dan merupakan mazhab yang diakui, namun pada hakikatnya Syiah bukanlah Islam, melainkan agama tersendiri yang tersesat dan sangat menyimpang." Ia kemudian melanjutkan, "Iya benar, kami berjuang di Parlemen untuk membuat undang-undang dan aturan yang berpedoman pada syariat Islam, namun bukan berarti kami dalam hal ini menjadikan Iran sebagai panutan." Pernyataan tokoh salaf tersebut berbuah kontroversial dan kritikan dari berbagai pihak. Muhammad Ad Darini pimpinan Majelis Tinggi Ali al Bait menyatakan, "Pernyataan tokoh salaf tersebut menunjukan kejumudan, kejahilan dan keekstrimannya dalam beragama. Pernyataan tersebut berbahaya bagi masa depan persatuan rakyat Mesir. Permusuhan Muhammad Ismail dan orang-orang semisalnya terhadap Syiah hanya akan menguntungkan pihak musuh." Sementara itu Sayyid Tahir Al Hasemi, pemimpin besar Syiah Mesir yang juga merupakan pengurus Majma Jahani Ahlul Bait menyatakan kecamannya, "Dengan pernyataannya tersebut menunjukkan wakil Salafi dalam parlemen bukan memikirkan kepentingan Mesir secara nasional melainkan kepentingan golongan sendiri. Mesir baru adalah Mesir yang menerapkan undang-undang yang memberikan penghormatan kepada semua mazhab dan agama lain tanpa membedakannya satu sama lain. Karenanya peran semua pengikut mazhab dan agama sangat diperlukan untuk membangun Mesir yang berperadaban." "Universitas Al Azhar adalah rujukan beragama bagi rakyat Mesir untuk menyelesaikan perbedaan pendapat yang terjadi, itu telah menjadi harga mati." Tegasnya.